Blog ini hanyalah untuk kesenangan semata. Jika ada yang merasa tersakiti atau menyinggung pihak yang bersangkutan dari postingan diblog ini silahkan komentar dan mintalah dengan sopan untuk menghapus postingan yang anda inginkan. Blog ini, adalah blog story telling bertemakan. Jadi, gue mohon jangan menganggap postingan yang ada disini serius semua. Anyway, DILARANG KERAS mengutip sebagian maupun seluruh isi dari blog ini tanpa meminta persetujuan dari pemilik blog. Baca Selengkapnya>>
terlahir menjadi tukang sedot tinja professional sekaligus ketua persatuan jomblo seluruh indonesia ini adalah seorang manusia kreatif yang sudah menuliskan beberapa karya tulisan, lisan, maupun foto pup dirinya ke blog ini. Saat ini Rifqi adalah seorang MasihSiswa di salah satu sekolah di dunia ini. Rifqi saat ini masih sekolah kelas 12, masih sibuk dengan tugas-tugas, kerja kelompok, dan pup dicelana. Rifqi lahir pada 30 Oktober 1999 dan sekarang sudah berumur 16 tahun. Meskipun umurnya masih muda, mukanya mirip supir angkot berumur 80 tahun.
Belakangan ini entah kenapa gue jadi orang yang puitis.
Jangan ketawa.
Seriusan. Akhir-akhir ini gue lagi sering baca-baca sastra lama gitu seperti karangan-karangan pusinya Chairil Anwar, Sapardi Djoko Darmono, Goenawan Muhammad. Wah gila sih. Karyanya bikin gue meleleh. Gue heran sama karya-karya puisi mereka. Puisi mereka memilik makna yang dalam. Ya, gak kaya gue. Gue bikin puisi mentok-mentok paling ngomongin soal Banci. Naluri memang tidak bisa dibohongi.
Ehm. Sori.
Gue juga udah sebulan ini baca-baca bukunya Sapardi Djoko Darmono "Hujan Bulan Juni" dan Seno Gumira Ajidarma "Sepotong Senja Untuk Pacarku". Ahhhhhh GILAAA. Majasnya bagus-bagus banget. Penganalogian dan diksinya udah tingkat Olimpiade! Kalo diungkapin pake bahasa Inggris itu udah peri-peri owsom.
Ya gitu deh pokoknya gue jadi makin jatuh cinta sama sastra. Gara-gara baca buku kayak gini gue malah jadi sering-sering post kata-kata bijak gitu di Instagram. Hahaha.
Sebenernya hari ini gue lagi pingin ngebahas tentang puisinya pak Subagio Sastrowardoyo. Judulnya 'Rindu'. Jujur, puisinya benar-benar lagi tepat banget sama perasaan gue sekarang. Gue sedang banyak merindu. Gue merindukan masa-masa saat gue masih duduk di bangku SMP. Gue meridukan suasana-suasana saat gue masih kelas 9. Ketika gue sedang enak-enaknya menulis, senang-senangnya main sama sahabat-sahabat gue, dan....
Gue merindukan dia. Cewek yang gue sukai semenjak gue melepas si Mercy.
Rindu
Subagio Sastrowardoyo
Rumah kosong
Sudah lama ingin dihuni
Adalah teman bicara; Siapa saja atau apa
Jendela, kursi
atau bunga di meja
Sunyi, menyayat seperti belati
Meminta darah yang mengalir dari mimpi
Puisi diatas, really hits me. Jujur, si Cewek ini udah gue suka hampir 4 tahun dan begonya sampai sekarang gue gak tau gimana cara mengungkapkannya. Selama ini gue hanya menyukai dia dari jauh, mengamatinya, dan mencintainya sebatas punggung. Si Cewek ini juga sempat menjadi alasan mengapa gue melepas si Mercy ini. Gue gak tau lagi harus gimana. Dia sekarang sudah sangat jauh. Sangat-sangat-sangat jauh.
Gue kesulitan menggapainya.
Gue udah berusaha untuk melupakan dia. Mencari wanita-wanita lain yang bisa menggantikan dia. Tapi tetep aja. Ibarat mencari sebuah sepatu di Yogya Plaza. Sampai saat ini, gue belum bisa menemukan yang 'pas'.
Dan gilanya, puisi ini bisa menggambarkan apa yang sekarang rasakan. Ya, begitu. Gue itu kayak sendirian di rumah kosong yang sunyi. Mencari-cari teman bicara, tapi hanya ada jendela, kursi dan bunga di meja yang hanya bisa membisu. Menyaksikan gue yang sedang menunggu 'dia'. Si Cewek yang sudah mengisi hati gue selama 4 tahun ini. Sayangnya, sampai saat ini dia tak pernah datang dan perlahan, sunyi mulai menyayat seperti belati.
Rasanya, benar-benar sakit.
Tapi jujur gue juga gak sengaja bisa kenal sama Cewek ini. Gue bertemu dia dengan keajaiban dan keinginan semesta yang Tuhan berikan. Hanya berawal dari liat ask.fm-nya, lalu shalat zuhur, berdoa iseng-iseng minta dikenalkan Tuhan dengan dia dan besoknya tiba-tiba udah kenal.
Gue gak tahu cinta bisa sesimpel itu.
Gue tau, ini kesannya seperti mengada-ngada. Tapi ya memang seperti itu adanya, gue aja malah aneh bisa ketemu dia. Wong, cuma iseng to? Minta dikenalkan saja oleh Tuhan. Ajaibnya doa gue langsung terkabul. Aneh.
Musikalisasi oleh Banda Neira :
Jujur, ketika gue sudah melepas Mercy dan mulai yakin untuk menyukai dia gue sempat bertanya kepada diri gue sendiri. Apa benar dia yang selama ini gue cari? dan Apakah dia akan menjadi bagian dari sisa hidup gue atau dia hanya akan menjadi sebuah bab yang akan gue tulis di dalam sebuah buku yang bukan lain seperti Mercy?
Banyak orang bilang cara terbaik untuk melupakan seorang wanita adalah menulisnya kedalam sebuah buku. Sekarang, gue sedang menulis sebuah buku tentangnya dan untuk menulis sepatah kata pun rasanya sangat berat.
Oke seharusnya, saat ini gue lagi nulis skenario untuk drama di sekolah. Tapi, gue sekarang lagi males banget. Didepan gue udah ada microsoft word tapi daritadi yang gue lakukan cuma nulis satu paragraf -> hapus -> nulis satu paragraf -> hapus. Mondar-mandir di kamar. INI MAU SAMPE KAPAN JADINYA KAMPRET!
Mentok gak ada inspirasi, akhirnya tadi gue malah buka youtube. Ya, inilah mungkin penyebab kenapa naskah gue yang mau di rewrite kagak jadi-jadi. Tapi sumpah hari ini gue gak nyesel buka youtube. Karena, FINALLY GUE NEMU VIDEO INTERVIEW SAPARDI DJOKO DARMONO! YES! PENYAIR IDOLA GUE TUH!
AAAAHHH!!! PAK SAPARDII!! *buka baju*
Berkat interview ini gue jadi penasaran sama puisi-puisi pak Sapardi yang lain. Akhirnya gue mencari puisi-puisi yang diciptakan dan dibaca langsung oleh beliau dan kampretnya gak ketemu-ketemu. Saat itu yang malah gue temuin malah musikalisasi puisinya.
Didorong oleh rasa penasaran, gue akhirnya membuka musikalisasi puisinya pak Sapardi dan...
ANJRIT! PUISINYA BIKIN GUE MELELEH KAMPRETT!
Anyway, musikalisai puisi pak Sapardi yang udah gue liat di youtube cuma dua sih. Pertama, puisinya yang berjudul 'Di Restoran' dan 'Hujan Bulan Juni' dan sumpah dua-duanya bener bener keren. Here's the videos!
Hujan Bulan Juni
tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu
Di Restoran Kita berdua saja, duduk. Aku memesan ilalang panjang dan bunga rumput -- kau entah memesan apa. Aku memesan batu di tengah sungai terjal yang deras --
kau entah memesan apa. Tapi kita berdua saja, duduk. Aku memesan rasa sakit yang tak putus dan nyaring lengkingnya, memesan rasa lapar yang asing itu. AAHHHHH GILA! Pak Sapardi, kalau mau bunuh saya pakai pisau aja. Jangan pake kata-kata. Tajeemmm bangeeettt, pak. BUNUH AKU SEKARANG SAJA, PAK! BUNUH AKU!! Sumpah, saat gue mendengar puisinya dimusikalisasi kayak gini bulu kuduk gue langsung berdiri! Gue jadi makin gak ngerti, kenapa sih penyair-penyair itu keren banget, kata-kata yang sebenernya sederhana aja bisa mereka buat jadi keren banget. Sedangkan gue? Boro-boro mau buat puisi bagus. Nulis kayak gini aja bikin orang muntaber. Kemarin gue dapet data 10 orang muntah berak dengan berak beneran. Keluar dari mulut gitu beraknya. Serem abis. Ah gila pokoknya pak Sapardi keren banget deh. Gue jadi pengen ketemu nih sama beliau. Pengen minta tanda tangan hehe.
***
Anyway, gue baru aja cek twitter dan gue baru tau sekarang hari puisi nasional. So, selamat hari puisi nasional, guys! Pantes aja nih, gue bawaannya pengen baca sama nulis puisi mulu!
Sepulang sekolah tadi, gue diajak makan ramen sama temen gue. Seperti biasa, gue disitu cuma ngeliatin mereka makan aja (ya, duit seorang penulis memang tidak banyak). Enggak juga sih. Disana gue beli satu juice rasa strawberry. Dan.. Karena bosen gue iseng nulis puisi deh sambil nungguin mereka selesai makan. Ini lah puisi yang gue tulis di note handphone gue tadi :
Kamu Hei Kamu,
Siapa kamu?
Apakah kau datang kesini untukku?
dan mengisi kekosongan hatiku? Hei Kamu, Sudah lama aku mencarimu Apakah kau datang membawa seuntai kebahagiaan lewat senyummu itu? Ataukah kau datang menyembunyikan sembilu yang membuat hatiku terluka semakin perih? Hei Kamu, Maukah kau menemaniku? Melewati semuanya bersama. Ya?