Surat Cinta Untuknya Part 3 : Penyesalan


*Nb : bagi yang baru baca, agar lebih rame bacanya, silahkan terlebih dahulu baca yang Part 1 dan Part 2

Hari itu, tepatnya kamis tanggal 20 maret 2014, gue sedang berjalan bersama dengan anak-anak. Tidak, gue belum nikah kok. Gue juga belum punya anak. Maksud gue, gue berjalan bersama bareng bojekers. Iya, bojekers. Komunitas yang udah gue ceritain di postingan yang ini. Baca duluya postingan yang itu! Baru yang ini huehehehe.

Kita sedang berjalan bersama menuju masjid di dalam sekolah. Tepatnya deket kok. Cuma 100 Km meteran dari kelas gue. Kita kesana tentu saja tujuannya untuk sholat. Yaiyalah! masa gue mau jogging disana? (lho?). Kita berempat mau sholat dhuha. Saat itu, gue emang lagi soleh-solehnya. Atau mungkin gue lagi ada maunya, mankanya gue sholat (lho?).

Kita semua solat sembari menyelesaikan masalah masing-masing selain Ibadah. Finla solat dan berdoa agar bapaknya tidakk menjadi diktaktor lagi karena bapaknya suka marah-marah ke dia. Aprana solat dan berdoa untuk bapaknya yang sudah meninggal. Gue berdoa agar bisa deket saa mercy dan Adam… dia malah berdoa agar dia tidak masuk neraka gara-gara maling kolor tetangga. Ya, semua mempunyai urusannya masing masing.

Gue pun melangkah menuju masjid yang berada di lantai dua gedung sekolah ini. Gue berjalan dengan mereka sambil tertawa riang. Kita semua memang sudah terlihat seperti saudara. Bukan sahabat. Apalagi teman. Kita memang sangat dekat. Tapi, bukan berarti juga kita semua mengalami disorientasi seksual yang membuat kita semua menjadi homo. Gak gitu juga. Kita semua gak homo kok. Cuma dikit (lho?). YA ENGGAK LAH!.

Setelah lama nge-bojeg1 ria, entah kenapa aprana langsung menanyakan mercy ke gue.

*Bojeg : Orang yang melawak tapi lawakannya enggak lucu.

‘Qi! Gimana kabarnya mercy nih?’ Apran mulai membuka topik baru.

Gue jawab ‘Emmm… gue gak tahu lah. Emang gue udah jadi pacarnya apa?’

Aprana ngakak ‘Hahaha, jadi kapan lo mau ngajak ngobrol? Waktu itu senin gak jadi terus diundur sampe sekarang. Jadinya mau kapan?’

Iya, Sampai sekarang, gue belum ngomong sama dia. Karena, waktunya selalu gak tepat. Waktu itu saat gue mau ngajak ngomong, dianya lagi dikerumunin sama temen-temennya. Padahal, gue berharap dia bakal duduk sendiri depan kelas, sehingga gue lebih mudah untuk mengobrol dengannya. Tapi, kenyataannya gak begitu.

Gue jawab dengan nada yang agak lesu ‘Gue juga gak tau. Maunya gue sih sekarang. Semoga aja allah bisa membantu gue.’

‘Yeee malah pasrah. Usaha dulu. ‘Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika mereka dapat merubah nasib mereka sendiri.’. Usaha dulu nyet!’ Finla tiba-tiba nyerocos.

Sambil berjalan, gue mulai meresapi kata-kata finla. Bener juga. Kita gak boleh pasrah. Harusnya gue usaha dulu dan gak boleh nyerah duluan.

Gak kerasa kita semua udah ada di depan mesjid. Kita semua pun duduk sambil membuka tali sepatu yang sudah terikat dengan simpul . Setelah membukanya, gue pun beranjak menuju ke tempat wudhu. Setelah itu, gue pun  solat duha dengan empat rakaat. Inget! Gue itu solat ya! Bukan di solatkan!.

Selesai solat, gue pun berdoa kepada sang pencipta. Di dalam doa itu, tentunya ada nama dia, Mercy Alya Saputri. Gue berdoa kepadanya agar DIA dapat membantu gue untuk ngobrol dengannya. Gue juga berharap, dia bisa mendekati gue duluan sehingga gue bisa lebih mudah untuk ngajak ngobrol dengan dia.
Selesai solat, gue menghampiri  mereka ber-empat dan mengajaknya turun ke bawah untuk melaksanakan ujian praktek Seni Budaya.

Di ujian praktek itu, gue membuat saung kecil dengan bahan dari korek. Saat ngebuat itu, entah kenapa gue selalu kepikiran dengan dia. Gue gak konsen. Terkadang gue suka menjatuhkan sesuatu karena memikirkan dia.

Selesai membuat saung kecil tersebut, gue pun memberi label nama gue dan nomor peserta ujian, lalu, gue simpan di eja yang sudah dijajarkan dengan ciamik di depan whiteboard. Setelah itu gue pun keluar dari kelas dan mengajak bojekers menemani gue di luar kelas karena akan ada penilaian disana.
Di luar sana gue pun mengarahkan pandangan mata gue ke kelas mercy. Gue pun menyebarkan pandangan gue dan gue melihat sesosok wanita cantik berkerudung putih sedang tertawa riang di depan kelasnya. Benar, itu adalah Mercy.

Gue tersenyum melihat dia tertawa. Mulutnya terbuka lebar matanya pun meyipit. Dia unyuk sekali.
Ah… kalo liat kejadian ini, gue jadi inget lagu Steven & Coconut Treez judulnya Horny-Horny. Tenang, isi lagunya bukan orang yang sedang mendesah kenikmatan menikmati……… kopi.  Tapi, ini adalah lagu reggae yang pas banget dengan keadaan ini

Duduk di pantai melihat ombak nikmati sunset
Lupakan resah nyantai nikmati pantai
Dan tiba-tiba mataku tertuju sesosok yang indah
Dan dia tersenyum dan aku tergoda, ku terpana

Andai aku bisa, kali ini saja
Bisa bersamanya, pegang-pegang saja

Tak aku sangka dan tak ku kira
Dia menyapa (hai…)
Mengajak berdansa, sangat menggoda
Ku terpana…
Andai aku bisa, kali ini saja
Bisa bersamanya, touching-touching saja


Gue pun duduk dekat pintu kelas dia sembari melihat kecantikan dia dari jauh. Gue tersenyum kecil melihat wajahnya sedang tersenyum yang tak sengaja melihat gue sedang duduk di dekat pintu kelasnya.

Sambil mendengarkan lagu Steven & Coconut Treez tadi, gue masih memikirkan apa yang mau gue omongin sama dia. Gak lama kemudian, penilaian kelas gue dan kelas dia selesai. Gue bernafas lega. Satu, karena kelas gue mendapat penilaian yang baik. Dua, karena tadi gue menahan nafas karena aprana barusan kentut di sebelah gue. Perlu diketahui, aprana memang suka kentut. Dan bau kentutnya 20X lipat dari bunga bangkai. Bayangkan saja, adam aja pernah pingsan karena kentutnya.

Gue pun melepaskan earphone gue dan mulai mengobrol dengan bojekers yang tadi sedang sibuk mendengarkan lagu dari handphonenya masing masing. Aprana dan finla pun membojeg ria. Disusul dengan gue yang dengan idiotnya tiba-tiba menyanyikan lagu gelas-gelas kaca dengan suara yang super hancur.
Semua yang ada di sekeliling gue tertawa. Begitupun dengan dia yang memandang gue dengan aneh lalu tertawa kecil.

Selesai tertawa, kita semua pun terdiam mendengar bel pulang yang baru saja berbunyi. Semua yang ada di sekeliling gue pun bernjak pergi meninggalkan kelas dan sekolah ini. Tentunya, bojekers masih tetap ada di samping gue. Begitupun dengan dia yang masih duduk mengobrol dengan CS-annya.

Di saat gue terdiam gak ada angin gak ada hujan dan gak ada kutang yang beterbangan, mercy datang mendekati gue. Aprana dan Adam seketika langsung menggoyangkan bahu gue. Begonya, gue malah gak ngerti ada apa dengan mereka berdua.

‘Eh, pada liat Pak seno gak?’ Dia nanya.

Aprana masih menggoyang-goyangkan bahu gue. Gue sendiri bingung, kenapa dia nanyain pak seno. Pak seno sndiri adalah guru PLH gue. Gue pun menerka-nerka mengapa dia menanyakan pak seno. Oh iya, mungkin dia mau memberikan hasil pupuk kompos. Tapi, pupuk kompos dikumpulkannya kan hari rabu kemarin?.

Sambil menggoyangkan bahu gue aprana berkata ‘Emmm… gak tau tuh. Dimana tuh ki?’ apran memberikan kode.

Gue sendiri yang bingung apa maksud dia datang kesini. Gue pun bilang ‘Emmm… kayaknya ada di ruang guru deh!’

Dia pun membalikan badannya  ke arah ruang guru. Adam pun bilang ke gue.

‘Ki, itu anterin dia dong.’

Gue jawab ‘Enggak ah!’

Setelah itu  dia pun pergi ke ruang guru. Gue melihat dia dari kejauhan. Saat itu, dia hanya berdiri mematung di depan pitun ruang guru. Gue keheranan.

Setelah itu gue pun memutuskan untuk pulang sambil berjalan kaki dengan Adam dan Aprana. Finla gak bareng sama kita. Dia berbeda arah. Sambil jalan, gue masih memikirkan kejadian tadi. Dan gue baru sadar, itu adalah kode.

‘Pran, Gue baru sadar, harusnya gue anterin si mercy ya!’

‘Iya! Elu begok!. Udah gue kodein digerak-gerakin bahunya malah gak ngerespon elunya da Dia udah nyamperin, elunya malah begok!. Dasar dodol!’ Aprana nyolot.

‘Iya-iya sorry. Gue baru sadar. Gue nyesel banget!.’ Gue menyudahi percakapan.

Sambil berjalan, gue memikirkan betapa bodohnya gue tadi. Udah dikasih kesempatan, ehh guenya yang gak bisa. Dodol.

Gak kuat berjalan lagi, gue pun memutuskan untuk naik angkot. Setelah turun dari angkot gue masih harus berjalan sekitar 800 meter . Gue masih memikirkan hal yang tadi, penyesalan langsung datang bertubi-tubi ‘Kenapa saat itu gak gue ‘hajar’ aja!’. Sambil berjalan, gue pun menyalakan musik yang di putar secara acak. Entah kenapa, tiba-tiba gue dapat lagu maudy ayunda – Cinta datang Terlambat.

Gue meresapi lirik lagu itu. Entah kenapa lagu itu pas dengan keadaan gue saat ini.

Tak ku mengerti mengapa begini
Waktu dulu ku tak pernah merindu
Tapi saat semuanya berubah
Kau jauh dari ku pergi tinggalkanku

Mungkin memang ku cinta
Mungkin memang ku sesali
Pernah tak hiraukan rasamu
Dulu ..

Aku hanya ingkari
Kata hatiku saja
Tapi mengapa cinta datang terlambat

Sebenernya ini bukan cinta datang terlambat. Tapi, Penyesalan yang datang terlambat. Kenapa tadi ke gak peka? Kenapa gue malah dingin ke dia? Kenapa saat itu gue gak nemenin dia?. Pertanyaan itu masih terngiang di kepala gue.

Gak lama kemudian rintik-rintik air jatuh dari langit. Gue melihat ke atas dan melihat bayangan kejadian tadi.  Gue pun memejamkan mata, menundukkan kepala dan memukul kepala gue secara pelan. Karena kalau keras, bisa-bisa gue geger otak. Kalau gue geger otak, mercy gak bakalan mau sama gue!. Iyalah! Mana mungkin dia mau sama orang gila? (lho?).

Gue segera berlari secepatnya dan gue pun sampai di depan rumah. Segera, guemengganti baju dan pergi ke balkon rumah. Gue pun berdiri mematung disana. Gue menengadahkan tangan gue untuk merasakan air yang jatuh itu. Bertubi-tubi penyesalan datang ke gue. Gue terlalu bodoh. Gue gak peka. Gue itu dodol.
Setelah itu gue duduk di balkon rumah dan berdoa agar nanti gue bisa ngobrol sama dia sambil mendengarkan lagu Maudy Ayunda – Cinta Datang Terlambat.


Video klip Maudy Ayunda - Cinta Datang Terlambat

***

Besoknya gue sekolah seperti biasa. Gue masih berharap dia bisa mendekati gue seperti kemarin. Sepanjang pelajaran, gue hanya memikirkan hal itu terjadi atau tidak. Dan sampai pulang sekolah tadi, Gue gagal dan belum bisa mengobrol dengannya.

Sampai sekarang gue masih menyesali apa yang gue lakukan kemarin. Dasar Dodol.

To Be Continued...

12 comments:

  1. yah, ga ada suratnya.... kirain masih tentang surat... *gue kesamber*

    kalo dia emang beneran sering mampir ke sini, ntar dia juga bakalan ngode.... entah nngode narik atau ngode nolak... :P asal elunya ga ngondek aja ntar....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Nanti ada saatnya surat lagi kok! hehe.

      Bener juga tuh!. Iya, gue harap gue gak tiba-tiba menjadi bencong pas ketemu sama dia... (lho?)

      Delete
    2. gue sih selalu ngedukung orang yg sedang berjuang, termasuk berjuang jadi ngondek..... hihihihih....

      sukses ya, yg mana sih si mercy itu..... *tengok kiri kanan*

      Delete
    3. Wahahah, alhamdulillah gue sukses!.

      Delete
  2. Hih. Udah dikodein gitu bukannya dihajar. Itu udah ala ala ftv keren gitu ki. Selanjutnya elu yang samperin dong! hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Iya, gue tau. FTV-FTV? wahhh keren juga ya kisah cinta gue. hahaha :))

      Delete
  3. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang pertama sorry, gue hapus komennya. Gue masih mau merahasiakan nama mercy dari para pembaca. Jadi, sorry ya, kalo komen jangan pake nama asli dia :).

      Yang kedua, ahaaha yang di part 2 itu kan cuma pencitraan aja. Biar lucu gitu :). Kan blog aku genrenya komedi, kalau gak lucu, blog gue genrenya apa dong? hehehe.

      Yang ketiga, wahahah santai aja, UN mah gue juga udah pasti fokus. Kalo enggak, masa nilai simulasi MTK gue kemarin bagus. Hehe :)

      Yang keempat, iya siap komandan! *hormat* entar gue samperin kelas dia kok :). Tapi, doain gue ya, biar gak kejang-kejang di depan kelas dia dengan mulut berbusa (lho?)

      PS : Gue udah nyari twitter kamu nyaris 10092492918584329842 jam (hah?) kok gak ketemu ketemu ya?

      Delete
  4. Ki, kejadian tadi juga di tulis dong, kayaknya lucu :D

    ReplyDelete
  5. Hahaha kenapa gemes baca ini kenapa gemes kenapa gemessss. Gitu ya kalo cowo saking jatuh cintanya jadi suka melakukan hal-hal semacam ini. Eh ini kelas 9 beneran banget ya? UN SMP udah kan bisa fokus sama Mercy lagi deh hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya gitu deh kalo cowok udah jatuh cinta. Rata-rata pada ngejar mati-matian. Hehe.

      Iya gue emang beneran kelas 9. Ini aja uda mau lulus. Hahaha

      Delete

Thank's for reading reader's!. Jangan lupa ninggalin jejak. Gak perlu nempatin link blog lo di komentar. Kalau sering-sering mampir, nanti dikunjungi balik kok!. Hati senang, kamu riang, lepas kutang~. -@rifqiaakram