The Raid 2, Kritikan dan Segmen Baru

Layaknya seperti manusia (ab)normal lainnya, gue adalah orang yang sangat mudah terpengaruh dengan apapun yang gue lihat,tonton, dan baca. Ketika gue lihat YKS, gue jadi pingin goyang-goyang gak jelas sambil bilang ‘asik-asik jossss’ kayak cesar. Ketika gue baca buku Sherlock Holmes gue langsung kepingin jadi detektif dan Ketika gue nonton Naruto gue jadi kepingin punya kumis di pipi lalu menghantamkan telapak tangan ke perut orang sambil berkata ‘RASSSSEEENNNGGAAAANNN!!!!!!’. 

Untungnya, sekarang gue gak pernah nonton acara TV yang aneh-aneh. Mungkin, ketika gue nonton Tukang Bubur Naik Haji gue jadi kepingin jualan bubur lalu syuting 1000 episode dan gue gak mau di kontrak lagi gara-gara gak sreg sama Sinemart.

Tentunya, sekarang gue sedang mudah terpengaruh dengan film-film yang gue tonton. Ya, gue sekarang lagi maniak-maniaknya sama film terutama film The Raid 2 : Berandal

Sabtu lalu, gue baru aja ngeliat trailer The Raid 2 dan… Gila. Trailernya keren abis. Gue bener-bener takjub sama pemeran pemeran yang ada di sana. Ada dua adegan yang gue suka di trailer film The Raid 2.

Adegan pertama yang gue suka di film ini adalah saat dimana penjahat memakai jaket dengan kepala yang ditutupi dengan penutup jaketnya sedang berjalan sambil membawa sebuah stik baseball di tangannya. Dan… gila! Stik bisbolnya bagus banget, men (lho?). Tenang, bagian bagusnya sebenernya bukan di situ kok (monyet lo qi!). Saat itu, si penjahat ketemu sama seorang polisi. Si penjahat kaget lalu tanpa basa-basi dan kentut yang diperlukan si penjahat menyerang dengan memakai stik bisbol dan… BAK! (leher kanan dipukul) BIK! (leher kiri dipukul) BUK! (titit si polisi dipukul) AWWWWW!!! ( titit polisi hilang begitu saja).

Gile.

Keren Abis.

Yang kedua,

Gue suka adengan iko uwais sedang di penjara, oh iya di film ini si iko uwaisnya ganti peran loh! Jadi, pasti rame deh!.Jadi, saat si iko ini di penjara dia berambisi ingin keluar dari penjara. Dia pun berusaha keluar dengan menonjok tembok penjara. Dan setelah ditonjok berhari-hari…. BAK! BIK! BUK! DUARRRRRR!!!!!. Temboknya runtuh sodara-sodara.

Coba bayangkan!. Tembok runtuh begitu saja.


Gile.

Gue aja nonjok  guling  sekali memar 3 minggu. Apalagi nonjok tembok berkali-kali.

Dipengaruhi dengan apa yang gue tonton, gue pun ingin mencoba agar gue bisa kuat seperti iko uwais. Dan setelah nonton trailernya. Besoknya gue langsung olah raga.
Besok paginya, gue pun langsung berangkat ke taman pemerintah kota dan siap untuk menonjok-nonjok pohon yang ada di sana. Benar, hebat bukan?. Jadi, jangan kaget ya kalo ketemu gue, badan gue tiba-tiba kekar dan berotot (tentunya, dengan tangan yang sudah tidak ada jarinya).

Gue pun berlatih di taman itu. Sepanjang latihan, gue sih cuma push up, sit up, dan pull up doing disana dan gak kelewat juga gue nonjok-nonjok pohon di sana. Hasilnya lumayan. Pohonnya sampe putih alias si kulit luarnya pada ilang.

Dan… kalian gak perlu khawatir tentang tangan gue. Kelingkingnya udah putus satu kok.

Setelah cape berolahraga, gue pun memutuskan untuk beristirahat sejenak dan memulihkan diri disana. Gue pun duduk di dekat pohon sambil meminum satu botol aqua yang baru saja gue beli di warung. Yaiyalah di warung!.

Oh iya, taman yang gue pake buat olahraga gue ini cukup bagus. Pemandangannya indah cahaya matahari siang menembus rimbunan dedaunan yang ada diatas. Jadi, dedaunan itu udah kayak payung alami gitu dan ada sungai juga disana yang bikin taman ini makin ciamik. Menurut gue, tempat ini cocok banget buat pengambilan syuting adegan pas lagi galau. Nah ini nih fotonya :


Nah, gue duduk di sekitar bunderan yang ngelilingin pohon itu.
Tempat gue latihan di depan pohonnya.

Cukup keren bukan?. Makanya, sekarang, jangan macem-macem sama gue. Nanti dikutuk jadi kaos dalem lho…

Lagi asik-asiknya istirahat di taman, tiba-tiba muncul seorang bapak-bapak paruh baya berjaket biru dan membawa tas backpacker mentadangi gue. Sontak, gue kaget. Gue mengira dia adalah orang jahat. Bingung enggak ada senjata, gue pun mengambil ranting pohon yang ada di belakang tubuh gue. Ya, kalo gue gak bisa  dan gagal melawan dia, stidaknya gue punya senjata pamungkas dan gue colokin ranting pohon ke matanya. Dia pun lari dan teriak-teriak seperti bencong yang baru akil balig. Tapi, kenyataannya berkata lain, dia mendekati gue berkata

‘Dek, pemkot di sebelah mana ya?’

Monyet.

Lo pikir jalan yang lo lewatin ini apaan, pak?. Apakah anda sudah rabun?. Tolong segerakan periksa mata anda pak! Atau mau pengobatan mata gratis? Nanti saya colokin ranting pohon ini ke mata bapak.

Bapak sembuh, saya senang.

Gue pun berkata ‘Maaf mas, pemkot bukan disini tapi disana,’ gue pun menunjuk kantor pemkot yang sangat besar ada di belakangnya.

‘Ohhhh makasih ya dek,’ Kata bapak-bapak itu.

Bener-bener monkey.

Ternyata, masih ada orang yang lebih katarak dari gue.

Oh iya, gue kesini setiap hari minggu pagi dan sore dan keren banget loh disini. Entar gue liatin lagi deh screenshotnya!.
***
Ganti topik lain,

Akhir-akhir ini gue suka di kritik sama cewek-cewek. Mungkin, karena muka yang terlalu ganteng dan sempurna, cewek-cewek pada iri sama gue kali ya.

Iya, akhir-akhir ini gue di kritik sama empat cewek dan apa kata mereka semua…

‘Ih, kamu jutek deh’

‘Ih rifqi, kamu jahat sama aku, jutek ih’

‘Jutek ih!’

‘Eh, kamu cuek tau ga’
 
‘Rifqi! KAMU GANTEEENGGG BANGETTT!!!!!’
Uh oke, sebenernya omongan yang terakhir diatas bukan mongan cewek. Tapi gue sendiri. Gue hanya ingin jujur aja. Takut dosa ah.

Gue yang lagi makan batagor di dalem kelas sontak keselek. Untungnya gue selamat dengan batagor yang keluar lewat hidung gue.

Gue sebenernya heran ‘apakah bener gue jutek ya?’. Gue sendiri masih bertanya-tanya. Jujur, gue emang pendiem sama orang yang yang gak deket sama gue atau yang baru kenal. Yaaahhh takut salah tingkah aja gitu. Soalnya gue ingin menjaga citra baik gue depan cewek. Kan sayang dong cowok ganteng kayak gue salting.

Kalo diliat dari muka, muka gue emang nyeremin sih. Bisa diliat di foto profil twitter gue. Udah diedit aja mukanya masih jelek, apalagi enggak. Mungkin itu juga menjadi salah satu penyebabnya. Pantas saja, waktu gue ngobrol sama gebetan gue yaitu si mercy, dia jarang liat muka gue. Mungkin memang benar, muka gue nyeremin.

Gue sendiri sebenernya lebih menjadi diri gue sendiri saat orang yang sangat gue kenal. Ya gue bakalan ngeluarin komedi-komedinya gue pas ngobrol dan mencoba menjadi rifqi yang sebenernya. Ya, keren bukan?.

Hmmmm....
***
Ganti topik lagi,

Akhir-akhir ini programnya alit lagi boming-bomingnya yaitu tantangan membuat tiga kata menjadi sebuah cerita. Gue baru liat di blognya keriba-keribo. Dan gue tertari banget. Gue jadi tertarik bikin cerita fiksi contohnya cerita fiksi Kardus dan Terong nya keriba-keribo.

Wiiihhh itu keren banget.

Jadi, intinya gue bakalan buat segmen baru di blog ini. Gue bakal bikin cerita fiksi, tentunya dengan gaya komedi juga. Jadi tungguin aja ya segmennya! Jangan lupa sering mampir kesini!.

So, keep visit this blog and enjoy it!

See you reader’s!

Postingan Setelah Menghilang


 Ah gila! Akhirnya gue ngepost lagi!.

Ada banyak hal yang mau gue sampein ke kalian semua, pembaca setia blog gue. Bagi yang suka komen sampai yang tidak komen sampai yang suka komen tetapi tidak komen (lho? Jadi komen apa dong).


Oke, KESATU

Gak kerasa udah lama gue ninggalin blog ini?. Berapa hari sih? 2 hari? 2 minggu? Atau 2 tahun sih?. Aduh gue lupa. Mungkin ini efek gue terlalu banyak ngemilin soal UN. Tuh, gue jadi insomnia gini kan? (Amnesia, monyet.). Eh, amnesia deng. Hehe.

Oke, udah  lama gue ninggalin blog ini. Padahal cuma 2 minggu ninggalin blog ini rasanya seperti 2 abad gue ninggalin blog ini. Bentar, gue mau bersihin blog gue dari jarring laba-laba dulu ya. Jangan lupa!, doain gue digigit laba-laba. Biar bisa jadi spiderman

Oke, cukup bersih-bersihnya.

Ah iya, akhir-akhir ini gue memang rada jarang update blog. Selain sibuk ngurusin kegantengan gue ke salon, gue juga sekarang udah mau UN. Gila. Rasanya gue baru aja masuk sekolah 3 tahun yang lalu. Eh… sekarang udah mau lulus lagi. Ah… waktu terasa cepat berlalu.

Iya, benar. Akhir-akhir ini gue disibukkan dengan berbagai hal seperti UN yang 3 minggu (benar, 3 minggu) lagi akan dilaksanakan. Tadi aja gue baru menyelesaikan Pra-UN. Ditambah lagi gue harus menyelesaikan novel gue yang sekarang udah 100 Hal A4. Ah.. tapi alhamdullilah gue menyelesaikan novel gue dengan ajib. Mulus tanpa bulu.

Oh iya, novel gue sekarang udah jadi, tinggal di kirim aja ke penerbit. Tapi, sekarang masih nunggu budget nge-print naskah novel gue. Soalnya nge-print di warnet mahal bo… 500/lembar. Artinya, gue harus mengumpulkan setidaknya 50.000 rupiah. Belum lagi ditambah ada foto di beberapa BAB. Kira-kira gue bisa menghabiskan biaya sekitar 60.000 rupiah. Gila. Uang jajan gue sehari aja sepuluh ribu. Mungkin bisa sih, gue ngumpulin tiga minggu. Itu juga, gue harus jalan kaki 5 KM. Mungkin, saat semua uang sudah terkumpul, gue sudah ditemukan tewas dengan badan yang udah terbentuk seperti Ucok Baba.
 
Miris.

Eniwei, gue mau ngasih judul buku gue ini adalah … :

Jatuh Cinta Diam-Diam

Isinya, ada sekitar 15 cerita tentang pengalaman absurd gue dari SD sampe gue SMP sekarang. Actually, gue cukup menikmati proses pembuatan buku ini. Setiap hari, gue selalu meluangkan waktu untuk nulis di laptop. Ah, rasanya gue seperti pacaran dengan laptop gue sendiri. Untungnya, laptop gue tidak pernah memakai rok mini dan baju ketat. Mungkin, jika Laptop gue seperti itu, setiap kali gue menulis, di celana pasti ada yang bangun.

Intinya, Kenapa gue kasih judul Jatuh Cinta Diam-Diam, karena disitu banyak cerita (gagal) cinta gue bersama Mercy. Pokoknya bakal seru deh!. Rata-rata banyak yang gue ambil dari blog. Tentunya dengan perubahan seperlunya.

Rencananya, gue mau ngirim ke penerbit bukune di Jl. Haji Montong no 57 (gile, saking siapnya alamtnya aja udah hafal!).  Sebenernya sih, gue gak terlalu berharap diterima penerbit. Gue lebih suka prosesnya sih daripada terbitnya. Tapi, gue bersyukur sekali bahkan gue sampai sujud syukur yang lama kalo buku gue diterbitin.

Kalo enggak sih, gue bakal print out aja dan memaksa, temen-temen gue baca dan membelinya! Huahahahahaha!. 

Semoga saja saat buku gue terbit, kasus bunuh diri di Indonesia tidak akan meningkat (lho?).
Udah deh, pokoknya doain geu aja ya biar diterbitin!.

***
KEDUA,

Eniwei, gue baru saja menyelesaikan buku yang baru saja gue beli di Gramedia. Judulnya ‘Marmut Merah Jambu’.

Jujur, sepanjang gue baca novel ini gue ngakak abis-abisan. Lawakan-lawakan si radith ini bikin gue berfikir ‘Gila!. Tulisan gini aja bisa bikin gue ketawa’. Gue juga jadi agak pesimis sih. Gue takut buku gue gak lucu. Tapi, tak apalah kalo memang buku gue gak lucu. Setidaknya gue sudah berusaha. Karena gak gampang gue nulis buku ini. Butuh waktu berbulan-bulan buat ngumpulin materi. Cape bo…

Di buku ini, Gue suka BAB Ina mangun Kusumo. Wih, gila itu keren banget! yang bikin gue kagum sama buku ini adalah radith ini sebenernya luncurin buku ini spesial buat Ina. Karena dia adalah orang yang sangat dia cintai bahakan ketika cintanya tak berbalas dia masih rela untuk mengeluarkan buku ini beserta kenangan-kenangan bersama doinya ini.

Mungkin, ini juga bakal gue lakukan ke mercy.

Sejujurnya, ada 3 BAB tentang si Mercy ini. Benar, dia adalah orang yang gue suka tapi sayangnya, dia tidak menunjukan perasaan yang sama ke gue.

Benar, gue akan merahasiakan nama dia dengan mercy. Tetap Mercy. Gue ingin mengabadikan kisah gue ini di dalam buku. Agar suatu saat nanti gue bakalan inget sama kisah ini dan bakalan ketawa-ketawa sendiri dan membuat berfikir ‘Bisa-bisanya gue kayak gini’.

Dan buku Jatuh Cinta Diam-Diam ini, akan menjadi buku yang paling spesial dan keren buat gue.Gue juga mempersembahkan buku gue ini kepada dia. It’s Especially for you, Mercy.

Dan saat buku gue terbit nanti, gue ingin dia akan menjadi orang pertama yang membaca buku gue. Gue orang yang kedua dan yang ketiga adalah… ehm… ‘Dia yang diharapkan’. Ya, gue harap dia yang diharapkan.

Benar, ada seseorang dan Mercy…? Dia udah gue lupain… setengahnya. Tapi, tentu gue bakalan nginget kenangan absurdnya gue dan dia.

Entar deh, gue certain di “Surat Cinta Untuknya : Part 5”.
***
KETIGA,

Selain itu, untuk informasi segmen “Surat Cinta Untuknya” gue akan tetap melanjutkan dan Setelah perpisahan satu angkatan nanti, gue akan informasiin lagi. Dan nanti, itulah Part terakhir dari segmen “Surat Cinta Untuknya”.

Oh iya, bagi yang belum baca silahkan liat di archive ini atau postingan sebelum ini. Kalian bisa baca dari awal sampe yang terakhir gue apdet. Boleh kok dibaca, kalo gak juga gak apa-apa.

Baiklah, pokoknya dari sekarang Blog ini akan mati suri selama 3 minggu tepatnya sampai tanggal 8 Mei 2014!. Gue bakalan menjalakan misi terakhir dari pelajar SMP! Yaitu, #SUKSENUN2014!

Oh my blog and my readers. I’ll miss you so!.

Goodbye and See you next time!. :)

Surat Cinta Untuknya Part 4 : Terima Kasih, Kamu :)


Senin kemarin, tepatnya tanggal 24 maret 2014, gue udah berhasil ngobrol sama kecengan gue. Benar, dia adalah Mercy.

Nb : gak bosen-bosennya gue ingetin, bagi yang baru baca, silahkan baca Part 1, Part 2, dan Part 3 nya. Biar rame aja bacanya. Tapi, ini kalo yang mau ya!. Kalo enggak juga gak apa-apa :).
Sebelum gue menceritakan hari H gue ngomong sama Mercy, mari kita flashback ke hari Minggu tanggal 23 Maret 2014.

Hari itu, gue dan temen gue Rafi yang pernah gue ceritakan di postingan ini, sedang merencanakan sesuatu yaitu kejutan  untuk Mercy.

Benar, kejutan.
Lebih spesifik : Kejutan Cinta.
Lebih Spesifik lagi : Kejutan Cinta Dodol.
Lebih Spesifik sekali : Kejutan Cinta Dodol dan Goblok.

Oke, untuk mempermudah membaca mari kita singkat Operasi Kejutan Cinta Dodol dan Goblok menjadi OKCDG.

Dan OKCGD pun mulai direncanakan.

Tentunya, untuk merencanakan sesuatu, kita harus mengobrol dan menegosiasikan bagaimana cara memberikan kejutan untuk dia. Awalnya gue dan Rafi ingin mengobrol lewat telepon, tapi apa daya, berhubung duit gue tidak memadai, itu tidak kita lakukan. Lanjut lagi, gue mau mengobrol lewat Direct Message twitter, ternyata, Rafi tidak diizinkan membuka laptop oleh kedua orang tuanya. Sialan.

Gak habis fikir, gue mengusulkan agar kita berdua mengobrol lewat telepon benang (lah?). Karena kepanjangan, akhirnya kita tidak jadi menggunakan telepon benang. YAIYALAH! Mana ada benang yang panjangnya 20 KM!. Hehe.

Setelah lama berfikir, akhirnya kita menemukan solusi yaitu bertemu di rumah Rafi (KENAPA GAK DARI TADI!). Iya, gue tau, lo semua pada gondok ama gue kan?. Hehe.

Paginya gue SMS Rafi.

Gue : Fi, kita ketemuan di rumah elo jam 9 ya.
Rafi  : Oke sip.

Didorong oleh kuatnya cinta gue terhadap Rafi Mercy, dengan segera pergi ke rumah Rafi. Dengan dipacu kuda besinya bokap gue, gue pergi ke rumah Rafi. Setelah 1 jam perjalanan, gue sampai di depan PVJ dan segera lari menuju rumah Rafi.

Dan akhirnya, gue sampai di rumah Rafi.

Sesampainya disana, dengan sigap gue masuk kedalam rumahnya dan segera merencanakan OKCDG.
‘Jadi gimana nih fi? Gue harus ngomong apa aja sama dia?’

‘Emm.. gini aja,’ Pandangan Rafi melihat tajam ke gue. Matanya bersinar. Selain karena ada senter yang ada di otaknya, cahaya matahari seolah memantulkan sinarnya. Lalu dia bilang ‘elo ungkapin aja apa yang ada di hati lo, setelah itu tembak dan beri coklatnya..’

Entah kenapa, saat itu Rafi ngomong dengan nada yang di dramatisir. Dia berkata seperti orang yang sedang memberitahu kebenaran tentang dirinya.

Nadanya sangat pelan dan seolah dia akan menangis menerima kenyataan pahit. ‘Qi… elo tau gak? Sebenernya, gue itu gayyyyy… dan… ternyata, gue punya kutil di tete gue…’. Lalu, nada gay itu terdengar  menggema di kuping gue. Seperti di film-film lebay itu.

 Ironis sekali.

Sebenernya, gue punya rencana, setelah ngomong gue akan memberikan coklat ke dia. Seperti yang ada di film-film. Seorang lelaki-ganteng-dan-kekar hendak menembak orang yang dicintainya dan memberikan coklat kepada pasangannya. Romantis.

Bahkan, awalnya gue ingin membuat rencana penjebakan untuk Mercy agar lebih romantis. Jadi, gue bakalan menyewa pesuruh, lalu mencelakai dia. Dan tiba-tiba gue, seorang-(setengah)-lelaki –(yang enggak) Ganteng- dan- lembek menyelamatkan dia. Seperti yang di film Spiderman 2.

Gue masih inget adegan ketika MJ sedang ngobrol dengan peter parker di restoran. Lalu, saat ditanya oleh MJ bagaimana perasaan peter parker ke dia, si peter bilang

‘No, I don’t love you.’

Dan setelah itu MJ kecewa, lalu bilang ke peter parker

‘Kiss me. I want know how about your feeling.’ MJ berkata dengan lembut.

Di saat mereka berdua hendak berciuman tiba-tiba mereka mendapat serangan dari belakang oleh Dr. Octavius. Dengan sigap peter menyelamatkan MJ dengan spider sense nya, lalu mereka berdua selamat.

Romantis Abis.

Nah sekarang coba bayangkan gue sedang berada di posisi peter dan Mercy sedan di posisi MJ. Saat Mercy bilang ‘Kiss Me.’, gue mendekatinya dan tiba-tiba Rafi menyerang dengan cara melompat dari belakang dan dengan chicken sense gue, gue lalu menyelamatkan Mercy . Kita berdua selamat, gue jadian sama dia.

Ironis Abis.

Tapi sayang, rencana tinggalah rencana. Selain karena gue ‘agak’ mirip bencong (ENGGAK KOK! GUE BUKAN BENCONG!. KAN CUMA MIRIP!), gue takut saat menyelamatkan Mercy gue mengalami kegagalan. Seperti badan gue tertindih oleh Rafi lalu gue ditemukan tewas dengan badan yang udah mirip sama kertas HVS.

Oh iya, perlu diketahui, bahwa Rafi adalah orang yang gendut. Jadi, jika Rafi menindih gue , tentu saja gue bakalan gepeng.

Tidak terbayangkan jika gue bakalan ketindih sama dia, orang ketabrak gerobak es krim walls aja gue koma 3 bulan. Apalagi ketindih Rafi.

Gue langsung tewas ditempat.

Gue pun membalas omongannya ‘Ok, tapi kayaknya gue gak bakalan nembak dia deh. Cuma ngasih coklat aja.’

‘Oh iya fi, bokap lo kan kerja di Kraft, gue mau beli coklat di elu aja deh. Siapa tau lebih murah. Hehe.’

Dengan muka gemes-gemes najong, Rafi membalas omongan gue. ‘Kraft itu memproduksi keju, Nyet! Bukan coklat.’

Gue diem. Oh astaga, gue lupa kraft itu ngebuat keju. Untuk menghidari epilepsy dari Rafi. Gue lebih memilih diam.

‘Eh iya gue lupa, tapi kraft lagi kerjasama sama catbury dan toblerone. Gue masih ada sekotak tuh di kulkas.’ Rafi melanjutkan omongannya.

Kita berdua ketawa garing.

Gue lempar Rafi ke luar jendela.

‘Nih ki,’ Kata dia sambil menyodorkan satu buah coklat Toblerone yang masih dingin dan terbungkus rapi.
‘Wah! Keren! Berapa nih fi!’

Rafi mendekatkan mukanya ke gue lalu berkata ‘Gausah ki. Anggap aja ini ucapan terima kasih gue. Elo kan suka bantu gue pas gue lagi susah.’

Gue senyum-senyum najong.

Ah… Rafi memang sangat baik. Andai saja di lebih ganteng sedikit, udah gue pacarin dia (lho?).
Begitulah rencana gue saat minggu kemarin.

Mari kita balik lagi ke Senin 24 Maret 2014

*flushbuck*

Hari itu, gue dateng sangat pagi. Tapi tenang, gue gak dateng ke sekolah jam 2 subuh kok. Gue dateng sekitar jam 5.49 . Tidak seperti biasanya, hari itu gue terlihat rapi dan unyuk sekali. Kalo dibayangin, gue itu udah seperti Tom-Cruise-Gagal-Operasi-Plastik. Baju rapi, dasi rapi, celana sudah disetrika, dan sekarang gue memakai kolor yang baru saja gue curi dari tetangga sebelah. Bau gue juga berbeda seperti ini, Kali ini gue menggunakan parfum. Semua ini hanya untuk satu cewek. Mercy Alya Saputri.

Di sepanjang pelajaran, gue hanya memikirkan apa yang kata-kata yang harus gue ukir sedemikian rupa untuk ngomong sama dia. Ah… kalo lagi kayak gini gue jadi inget lagunya Jamrud – Pelangi Di Matamu.

30 menit, kita disini, tanpa suara
dan aku resah, harus menunggu lama, kata darimu…
Mungkin butuh khusus, merangkai kata, untuk bicara
dan aku benci, harus jujur padamu, tentang semua ini...

Tapi semua pikiran itu musnah saat istirahat pertama. Saat itu, gue hendak  membeli makanan di kantin. Gue dan bojekers jalan menuju kantin itu membeli sesuatu dan saat gue menginjakan langkah pertama di depan kantin. Gue melihat seseorang berkerudung putih sedang membeli batagor.

Teringat buku radit yang ‘Babi Ngesot’, awalnya gue mau memuji dia, seperti cara yang ditulis dalam buku radit ‘Pujilah seorang cewek, karena mereka suka dipuji’. Saat itu gue hendak memuji dia. Sperti contoh yang diberikan radith kepada gue.

Jika dia sedang membeli batagor, kamu berjalan dibelakangnya. Lalu, tepuklah dia dari belakang. Saat dia menoleh kebelakang, berkata dan pujilah dia.

‘Hei, batagornya bagus.’

Setelah itu dia akan keheranan. Kata radith itu respon biasa. Cara mencegahnya, puji dia lebih dalam.

‘WAAAHHHH!!! Ternyata bukan batagornya aja yang bagus! Mas yang jualnya juga bagus banget!. Penjualnya gak mirip batagor! Keren!’

Mungkin, setelah gue memuji dia seperti itu, dia akan menampar gue lalu mengeroyoki gue hingga tak bernyawa.

Buset. Khayalan Tingkat TInggi.

Setelah memikirkan hal absurd tadi yang tidak jadi dan tidak akan gue laksanakan, gue langsung melihat dia dan berkata

‘Eh, pulang sekolah jangan kemana-mana ya! Aku mau ngomong. Ok!’  Ucap gue.

Dia pun mengangguk tanda setuju dan gue tinggalkan dia bersama temannya.

Ah… gila! Saat itu gue seneng banget!. Rasanya gue ingin buka baju sambil berkata ‘cenat-cenut’ di kantin. Tapi, karena badan gue terlalu kering, gue urungkan niat tersebut.

Pulang sekolah, dengan sigap gue bergegas keluar. Gue senyum-senyum najong, gue berjalan ke depan dan… gue melihat dia sedang berjalan dengan temannya, hendak meninggalkan sekolah.

DEG!. Hati gue seolah patah, remuk, dan kunyuk. Gue seperti baru saja dipatahkan oleh ade ray.
Gue bengong di depan kelas meratapi kepergian dia.

Gak lama kemudian, ada yang menepuk pundakk gue dari belakang. Benar, itu adalah Adam.

‘Qi, ayo kita solat!. Gue mau pulang nih.’

Gue membalas dengan anggukan kepala sambil berjalan kea rah mesjid yang berada di lantai 2.
Gue dan Adam pun solat dan gue berharap semoga gue dia tidak benar-benar pulang saat itu. Selesai solat, gue turun ke bawah dan memasuki kelas yang sudah kosong. Ya, disana hanya tersisa tas gue bojekers, Rafi, dan dinda. Segera gue merapikan tas dan hendak meninggalkan sekolah. Di saat sedang beres-beres meja, adam dari luar memberikan kode ke gue.

‘Qi, itu di depan ada siapa!’

Gue menerka-nerka ‘Siapa? Mercy?’

Gue segera berlari ke depan dan… oh yeah!. Ternyata dia belum pulang!. Hati gue terasa disambungkan kembali dengan super glue!. Gue serasa dilahirkan kembali!. AAAHHHHHH YEEEAAAAHHHH.
Dengan cepat, gue menghampiri dia dan mengajak ngobrol dia. Gue langsung mendekati dia dan berkata.

‘Emm… cy, bias ikut sebentar. Aku mau ngomong.’

‘Mau kemana?’

‘Sebentar aja. Di sana.’ Gue menunjuk kursi di depan kelas gue.

Dia menolak ‘Eh enggak ah! Di sini aja. Emang mau ngomong apaan sih?’

Sebenernya, banyak perdebatan antara gue dan dia. Disisi lain, gue pingin ngomong di tempat yang sepi. Biar romantis. Tapi, disisi lain dia gak suka tempat sepi. Mungkin bawaan gue yang agak sedikit kebencong-bencongan membuat hatinya curiga. Akhirnya setelah berdebat nyaris 10 menit untuk menentukan tempat, akhirnya gue mengalah dan mengobrol di depan kelasnya.

Sebenernya, ada rasa risih saat gue ngomong sama dia. Karena banyak banget yang ngeliatin. Apalagi anak-anak yang sekelas sama dia. Rata-rata pada nge cie-ciein gue. Kamfret. Rasanya, ingin sekali gue melemparkan bom Molotov untuk memusnahkan mereka semua. Tapi, apa daya, gue gak punya bom Molotov.

Tapi, karena ini semua untuk dia. Gue rela untuk malu! Gue lawan semua itu!. Gue pun mengobrol dengannya. Tapi, sebelumnya ada keanehan yang terjadi saat hendak memulai pembicaraan. Dia dengan anehnya berkata

‘Bentar, kita gak bakalan ngomong ‘kutang yang beterbangan kan’?’

Gue terdiam sebentar. Gue mulai mencerna kata-katanya. OH IYA! GUE INGET!. Bill pernah bilang ke gue.

‘Qi, lo bikin surat cinta yang romantis dikit dong. Dia ilfil tuh gara-gara ada kutangnya.’

Sebenernya saat itu gue malu. Bahkan, saking malunya, gue ingin bilang.

‘TENANG!, INI BUKAN MASALAH KUTANG AKU JANJI TIDAK AKAN ADA KUTANG-KUTANGNYA!. BAHKAN AKU SEKARANG TIDAK MEMAKAI KUTANG!. PERCAYALAAAHHH!!!.’

Tapi, didorong oleh rasa malu gue tidak bilang seperti itu. Gue hanya menutup muka dan bilang.

‘Enggak kok. Ini gak ada kutang-kutangnya.’

Akhirnya, gue pun mengobrol dengan dia. Gue mengobrol tentang perasaan gue kepadanya. Jujur, obrolan kita saat itu memang ‘agak’ kaku. Gue gak bicara banyak. Tapi, gue harap dia bisa meresapinya.
Setelah mengobrol gue hendak memberikan coklat toblerone itu. Seperti biasa, ada perdebatan antara kita saat menerima coklat itu. Tapi, akhirnya dia menerimanya.

AH! OKCDG SUKSES BESAR!

Gue ngerasa lega. Gue pun pergi meninggalkan dia dan menghampiri ‘geng’ gue.

Gue melihat ke belakang, Mercy sudah dikerumuni oleh teman-temannya. Gue hanya bisa tersenyum. Lalu, gak lama kemudian, salah satu teman perempuannya menanyakan ke gue.

‘Kamu nembak dia?’ Dia bertanya dengan nada yang sangat di dramatisir.

Gue jawab sambil tersenyum ‘ Enggak.’

‘Lho? Bukannya dia single ya?’

Gue mencerna kata-katanya. Bener juga dia. Tapi gue masih ragu dengan perasaan gue sendiri. Lagian, gue dan dia Cuma baru kenal baru-baru ini aja. Percuma kan, kalu jadian tapi diem-dieman aja. Maaf, gue bukan babi hutan yang kalo pacaran Cuma diem-dieman aja (Emang bener ya?). Walaupun Cuma mirip dikit (lho?).

Entahlah ada apa dengan perasaan gue ini. Gue ragu, bahkan dengan perasaan gue sendiri. Sepanjang malam, bukannya bahagia udah ngomong sama doi, gue malah ngegalau. Ah sial. Tapi, gue yakin, bisa mempertahankan perasaan ini sampai  nanti dan (mungkin) selamanya. :)

Tetapi, ada  satu hal yang gue tau di dalam hatinya yang bahkan orang lain tak tahu. Dia akan menjadi orang pertama yang benar-benar menghilangkan rasa selai kacang di lidah gue

Terima kasih Mercy :).

To be Continued…